Berstandar SNI dan Aman Gempa

Meski bersifat knockdown, konstruksi RISHA terbilang kuat dan tahan dihantam gempa. Materialnya juga sudah sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Sistemnya sudah diuji dengan skala penuh. Hasilnya, RISHA aman dibangun pada kawasan rawan gempa yang memiliki zonasi 6, yang merupakan daerah yang paling tinggi risiko gempanya.

Baca juga : outdoor furniture jakarta

Saat ini, RISHA sudah dibangun dan dihuni di beberapa wilayah Indonesia, seperti lokasi bencana tsunami Nangroe Aceh Darussalam, Medan, Pariaman (Sumatera Barat), Parung Bogor (Jawa Barat), dan Bandung. Konstruksi RISHA terbaru diaplikasikan pada pembangunan kampung deret di Petogongan, Jakarta Selatan.

Ramah Lingkungan Tak hanya murah.

Rumah berkonstruksi RISHA juga ramah lingkungan. Rumah knockdown ini menggunakan bahan bangunan utama (semen, pasir, kayu, dan baja tulangan) 40- 50% lebih sedikit dibandingkan dengan teknologi konvensional. Ini artinya, dengan konsumsi bahan bangunan yang sama, jumlah konsumsi bahan bangunan untuk 1 unit rumah konvensional dapat membuat 2 unit RISHA tipe yang sama. Inilah yang menjadikan teknologi RISHA lebih ramah lingkungan.

Bisa Dikembangkan

Rumah berkonsep RISHA juga dapat dikembangkan. Sistem modular serta komponennya yang serba pabrikasi malah membuatnya lebih mudah dikembangkan, baik ke samping (horizontal) maupun ke atas (vertikal). Menurut Arief, model rumah ini pada prinsipnya tak terbatas. Selain untuk rumah, RISHA juga bisa diaplikasikan untuk tempat ibadah, sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, ruko, dan vila.

Harga Material Bangunan Melonjak 10-20 Persen

Memasuki tahun 2014, harga bahan bangunan mengalami kenaikan. Menurut Hakim, pemilik TB Sinar Jaya Bogor, penyebab utamanya adalah menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. “Kenaikannya bervariasi antara 10-20 persen,” ucapnya. Hakim menambahkan, material pipa PVC mengalami kenaikan yang cukup tinggi pada bulan Januari 2014, sebesar 20 persen. “Awal bulan sudah naik 10 persen.

Dua mingggu kemudian naik lagi 10 persen,” tambah pemilik toko bahan bangunan yang terdapat di Jalan Pajajaran Bogor ini. Saat ini (pertengahan Januari 2014) harga PVC ukuran ¾” (26mm) di wilayah Jabodetabek mencapai Rp26.070 perbatang. Bahan bangunan lain yang mengalami kenaikan adalah material berbahan dasar besi, seperti besi beton, paku, seng, kawat. Material lain yang juga naik adalah cat, semen, multipleks, pasir, bata. “Kenaikan mencapai sekitar 10 persen,” ucap Hakim.

Pernyataan tak jauh berbeda diungkapkan Dadang, karyawan TB Sinar Abadi di Jalan Pahlawan Bogor. “Harga material keramik naik 5-10 persen,” ujarnya. Selain harga naik, Hakim juga mengaku keuntungan dari penjualan bahan bangunan berkurang akibat melemahnya rupiah. “Ada penurunan sebesar 10 persen akibat berkurangnya nilai transaksi dan jumlah konsumen yang berbelanja,” ujar Hakim.