Arsip Kategori: Game

Game Retro Kembali Merajalela Bagian 3

Keterbukaan publisher

Untuk urusan pemasaran, sekarang ini banyak sekali situs online yang bersedia membantu mempublikasikan karya para developer indie. Salah satu yang terkenal adalah layanan distribusi digital milik Valve, Steam. Selain memasarkannya, Steam juga tidak sembarangan memilih game indie yang akan dirilis. Mereka menyeleksi game­game yang diajukan melalui program Steam Greenlight. Selain Steam, ada juga layanan distribusi digital lainnya seperti GOG, HumbleBundle, dan Desura yang memasarkan game untuk Linux dan Mac.

Sekadar informasi, GOG.com adalah satu­satunya layanan yang menyediakan game klasik terlengkap. Game klasik di sini memang benar­benar game yang dirilis di era 70, 80, dan 90an. Pembeliannya dapat dilakukan secara digital mengingat beberapa game ini berukuran tidak lebih dari 500 MB. Harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau disertai diskon yang diberikan secara berkala, sehingga membuat gamer tidak memiliki alasan untuk men­download versi bajakannya. Tidak hanya untuk platform PC, produsen konsol seperti Sony dan Microsoft mulai tahun ini juga menyatakan dukungan secara penuh kepada studio game yang ingin memamerkan karya mereka melalui layanan Xbox Live Arcade dan PlayStation Network.

Di platform mobile sendiri, tren retrogaming berkembang cukup pesat karena platform mobile seperti Android dan iOS memberikan kesempatan yang sebesar­besarnya kepada para pengembang game indie untuk memasarkan semua karya mereka di beranda App Store atau Google Play Store. Tidak hanya developer baru yang mengembangkan game mobile dengan tampilan visual bernuansa retro, tetapi juga banyak sekali game­game yang sempat beredar pada zaman konsol Commodor 64 dan Atari dihidupkan kembali pada platform ini.

Meskipun beberapa di antaranya hanya bisa dimainkan setelah membelinya, gamegame klasik ini masih mendapatkan tanggapan bagus dari gamer mobile. Biaya pengembangan game mobile juga terbilang lebih murah. Tak jarang para developer yang awalnya membuat game mobile sekadar untuk menyalurkan hobi, tetapi di luar dugaan mampu menghasilkan ratusan juta rupiah per harinya. Salah satu developer mandiri yang merasakan fenomena ini adalah Dong Nguyen, sang kreator Flappy Bird.

Game Retro Kembali Merajalela Bagian 2

Crowdfunding

Dalam dua tahun terakhir, kemajuan teknologi dalam industri game justru membuat konsumennya tidak melulu ingin menikmati game dengan tampilan visual yang “wah” dan konsep permainan yang kompleks. Kenyataannya, jumlah orang yang menyukai game dengan konsep sederhana semakin banyak. Fenomena ini terjadi karena sudah terlalu banyak game yang beredar menyediakan grafis yang mumpuni, tetapi memiliki gameplay yang mirip antara satu dengan yang lainnya.

Tren yang monoton ini mendorong orang untuk mencari sebuah permainan dengan ide yang baru, dan disinilah tren retrogaming kembali mencuat. Tren ini juga didukung oleh motivasi dari dalam diri para developer indie bahwa sudah saatnya mereka menciptakan sebuah karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang tanpa harus menyediakan feature yang kompleks.

Ditambah lagi, munculnya situs penggalangan dana seperti Kickstarter dan Indiegogo membuat mereka semakin bersemangat dalam mengembangkan game. Mengapa? Melalui situs ini, mereka dapat menggalang dana yang diperlukan untuk menutupi biaya pengembangan game. Hilangnya masalah finansial secara langsung membuat developer mencari lebih jauh berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan demi menyempurnakan proyek mereka. Contohnya, dalam satu proyek game, pihak pengembang telah memberikan jumlah biaya yang diperlukan untuk merampungkannya. Jika dana yang terkumpul melebihi target, mereka akan menawarkan beberapa target tambahan yang dapat menarik jumlah donatur lebih banyak.

Target tambahan ini bisa berupa penambahan konten dan feature. Selain itu, disediakan beberapa hadiah yang akan didapatkan beberapa donatur ketika menyumbangkan dana dalam jumlah tertentu. Beberapa proyek yang ditawarkan mendapatkan reaksi positif dari para pengguna layanan ini. Dari sinilah mulai hilang pendapat bahwa game berkualitas harus dikembangkan dengan teknologi dan sumber daya yang memakan biaya besar.

Motif non-profit

Sebenarnya, tujuan orang­orang membuat game retro ini tidak semata­mata untuk mendapatkan keuntungan. Sebagian dari mereka juga ada yang membuat ulang game­game klasik atau menciptakan permainan yang terinspirasi dari game­game itu (fanmade). Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi kepada para kreator game masa lalu yang berhasil menghadirkan sebuah permainan yang sangat menarik, meskipun dihadang oleh berbagai keterbatasan yang ada, termasuk teknologi.

Game Retro Kembali Merajalela

Perkembangan industri game yang cukup dinamis mem- buat banyak sekali developer dengan dana dan fasilitas terbatas membuat game-game yang sederhana namun mampu menyampaikan ide permainan dengan baik. Keterbatasan itu mungkin bisa berakibat pada tampilan visual dan gameplay yang terlihat mirip seperti game-game klasik atau lebih sering dikenal dengan istilah game retro. Uniknya, game-game semacam ini justru disukai oleh gamer saat ini. Menjamurnya game-game sejenis membuat tahun 2014 menjadi tahun yang tepat untuk menyambut kembalinya retrogaming. Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya memaparkan definisi retrogaming.

Istilah retrogaming

Retrogaming atau juga disebut sebagai old-school gaming, sebenarnya masih termasuk sebagai salah satu jenis hobi. Hobi di sini adalah bermain atau mengumpulkan video game klasik yang dirilis untuk PC, konsol, dan mesin arcade. Video game klasik tersebut kemudian dimainkan kembali, dan biasanya harus dimainkan menggunakan emulator khusus karena beberapa di antaranya tidak menggunakan bahasa pemrogramman yang cocok untuk PC. Ya, mayoritas game retro dimainkan kembali pada platform PC mengingat sistem kontrol yang dimiliki lebih variatif dengan akses pemrograman yang lebih mudah.

Selain itu, terdapat sekelompok orang yang secara rutin berkumpul dan menyalurkan hobi bermain game klasik bersama­sama yang dikenal dengan nama retrogamers. Kini, istilah retrogaming memiliki arti yang lebih luas. Beberapa developer, terutama developer indie mengartikannya sebagai perancangan sebuah game dengan tampilan visual pixelated dan efek suara 8­bit yang terdengar sangat kuno, tetapi menyematkan gaya permainan modern, sehingga gameplay yang disajikan bisa lebih kompleks dan luas.

Sejak tahun 2005, para developer mulai mencoba mengembangkan sebuah game dengan grafis yang memukau. Dua tahun kemudian, EA merilis Crysis yang digarap dengan Cry Engine, menghasilkan tampilan visual yang luar biasa, dan pas tinya memaksimalkan kinerja kartu grafis yang beredar saat itu. Kemajuan teknologi yang cukup pesat ini kemudian di ikuti oleh developer lain. Namun, mereka yang terlibat dalam pengembangan game saat itu adalah perusahaan atau studio game yang berada di bawah publisher ternama.

Artinya, fasilitas dan dana yang dimiliki sangat mendukung untuk pembuatan game kategori AAA. Mereka yang memiliki bakat dalam membuat game bisa saling berkupul dan mendirikan sebuah studio game, tetapi setelah itu mereka masih harus mencari pub lisher yang tertarik untuk diajak bekerjasama. Di era sekarang ini, developer indie belum bisa unjuk gigi karena memiliki beberapa keterbatasan, salah satunya adalah keterbatasan finansial.