Game Retro Kembali Merajalela

Perkembangan industri game yang cukup dinamis mem- buat banyak sekali developer dengan dana dan fasilitas terbatas membuat game-game yang sederhana namun mampu menyampaikan ide permainan dengan baik. Keterbatasan itu mungkin bisa berakibat pada tampilan visual dan gameplay yang terlihat mirip seperti game-game klasik atau lebih sering dikenal dengan istilah game retro. Uniknya, game-game semacam ini justru disukai oleh gamer saat ini. Menjamurnya game-game sejenis membuat tahun 2014 menjadi tahun yang tepat untuk menyambut kembalinya retrogaming. Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya memaparkan definisi retrogaming.

Istilah retrogaming

Retrogaming atau juga disebut sebagai old-school gaming, sebenarnya masih termasuk sebagai salah satu jenis hobi. Hobi di sini adalah bermain atau mengumpulkan video game klasik yang dirilis untuk PC, konsol, dan mesin arcade. Video game klasik tersebut kemudian dimainkan kembali, dan biasanya harus dimainkan menggunakan emulator khusus karena beberapa di antaranya tidak menggunakan bahasa pemrogramman yang cocok untuk PC. Ya, mayoritas game retro dimainkan kembali pada platform PC mengingat sistem kontrol yang dimiliki lebih variatif dengan akses pemrograman yang lebih mudah.

Selain itu, terdapat sekelompok orang yang secara rutin berkumpul dan menyalurkan hobi bermain game klasik bersama­sama yang dikenal dengan nama retrogamers. Kini, istilah retrogaming memiliki arti yang lebih luas. Beberapa developer, terutama developer indie mengartikannya sebagai perancangan sebuah game dengan tampilan visual pixelated dan efek suara 8­bit yang terdengar sangat kuno, tetapi menyematkan gaya permainan modern, sehingga gameplay yang disajikan bisa lebih kompleks dan luas.

Sejak tahun 2005, para developer mulai mencoba mengembangkan sebuah game dengan grafis yang memukau. Dua tahun kemudian, EA merilis Crysis yang digarap dengan Cry Engine, menghasilkan tampilan visual yang luar biasa, dan pas tinya memaksimalkan kinerja kartu grafis yang beredar saat itu. Kemajuan teknologi yang cukup pesat ini kemudian di ikuti oleh developer lain. Namun, mereka yang terlibat dalam pengembangan game saat itu adalah perusahaan atau studio game yang berada di bawah publisher ternama.

Artinya, fasilitas dan dana yang dimiliki sangat mendukung untuk pembuatan game kategori AAA. Mereka yang memiliki bakat dalam membuat game bisa saling berkupul dan mendirikan sebuah studio game, tetapi setelah itu mereka masih harus mencari pub lisher yang tertarik untuk diajak bekerjasama. Di era sekarang ini, developer indie belum bisa unjuk gigi karena memiliki beberapa keterbatasan, salah satunya adalah keterbatasan finansial.