Hana Pandai Merangkai Kata Part 2

Di usia 7 tahun, Hana ikut Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) yang diadakan Penerbit DAR Mizan. Hingga sekarang, ia sudah empat kali mengikuti konferensi ini dan dari tahun ke tahun terlihat sekali peningkatannya. Di KPCI yang pertama, Hana ikut karena memenangkan kuis, di tahun kedua ikut karena cerpennya lolos seleksi, di tahun ketiga dan keempat ikut sebagai penulis karena sudah menerbitkan beberapa buku.

Lomba menulis pun mulai ia ikuti. Hasilnya, tahun 2012 ia menjadi 20 besar “lomba cerpen kebudayaan” yang dise lenggarakan oleh sebuah penerbit besar. Cerpennya pun menjadi sebuah buku berjudul Gimbal-Gimbal Cantik. Tahun berikutnya, cerpennya berhasil menjadi juara harapan I di ajang KPCI, judulnya “Manusia Kurakura yang Nakal”. Nah, yang paling menyenangkan, cerpen Hana berjudul “Laptop Panic” menjadi juara 1 KPCI 2014. Hasil ini tentu luar biasa karena yang ikut lomba adalah para penulis cilik berbakat yang karyanya mengagumkan.

BERKAT GEMAR MEMBACA

Saya dan abinya memang sengaja mengarahkan Hana untuk mengikuti berbagai pe latihan dan lomba. Selain agar kemampuannya mening kat, kami berharap ia bisa le bih percaya diri dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Tapi yang paling menyenangkan bagi Hana adalah bertemu penulis lain. Sewatu pertama ikut KPCI, banyak penulis cilik idolanya yang juga berpartisipasi. Tentu Hana tak lupa membawa buku koleksinya dan meminta tanda tangan. Tapi kini ceritanya berbalik. “Lucu ya, Bunda, dulu aku yang minta tanda tangan ke teman sekamarku yang sudah menerbitkan buku, sekarang aku yang dimintai tanda tangan,” kenang Hana.

Saat ini, Hana sudah menerbitkan empat buku, GimbalGimbal Cantik (antologi, DAR Mizan), Minmie’s Birthday (antologi, DAR Mizan), Caping Emas Misterius (novel solo, DAR Mizan), dan Misteri Ombak Foughville (antologi, DAR Mizan).

Juga, sudah ada tiga buku lagi yang masih dalam antrean penerbitan. Kemampuan Hana menulis tak lepas dari kesukaannya membaca. Kalau sudah baca buku, ia sulit diganggu. Sering kali kami beli lima buku, di perjalanan pulang langsung dibaca, dilanjutkan di rumah. Uniknya, tidak lebih dari satu jam, buku-buku tersebut selesai dibaca.

Kesenangannya membaca mungkin karena dulu sebelum tidur selalu saya bacakan buku atau mendongenginya. Selain itu, setiap sebulan sekali saya ajak Hana ke toko buku seperti Gramedia untuk memilih bukubuku yang ingin ia baca. Kalau bukunya sudah dibaca semua, biasanya ia “kulik-kulik” buku saya dan abinya.

Kami sekeluarga memang pu nya hobi membaca. Kalau sedang tidak ada aktivitas, ya kami membaca. Nah, dari situ kegemaran membaca Hana terus meningkat. Kami senang melihat kegemarannya membaca, karena tidak dapat dimungkiri, membaca adalah modal berharga bagi seorang penulis untuk mengembangkan kemampuan menulisnya.