Ingin Anak Cerdas ? Hindari Makanan ini, Bagian 2



Sayur & Buah Membuat Cerdas

Penelitian membuktikan, anak-anak yang senang mengonsumsi buah dan sayur, kecerdasannya lebih optimal. Menurut Dr. Annet Nyaradi, peneliti dari Science Network, kandungan konten mikronutrien dari sayuran berdaun hijau dan buah-buahan dapat meningkatkan perkembang kognitif anak. Banyak manfaat buah dan sayuran yang secara langsung memengaruhi otak anak. Bayam, misalnya, diyakini mampu mengurangi plak pada otak dan mencegah terjadinya stroke atau alzheimer. Kemudian tomat, kandungan vitamin A, C, dan lycopene-nya membantu otak untuk tidak mudah lupa, selain juga mendukung daya konsentrasi. Seperti kita ketahui, buah dan sayur memang mengandung aneka jenis vitamin dan mineral, mulai vitamin A, B, C, D, E, hingga mikronutrien lainnya. Jika aneka jenis buah dan sayuran dikonsumsi secara rutin dan variatif, akan sangat bagus untuk pertumbuhan, baik otak anak maupun tubuh secara keseluruhan. Kandungan nutrien di dalam buah dan sayur akan membuat sistem metabolisme tubuh semakin baik dan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Sebuah penelitian juga dilakukan di Swedia terhadap 81 pasang anak kembar. Salah satu pasangan kembar ini sering mengonsumsi sayur dan buah, pasangan yang satunya tidak. Ternyata, rata-rata anak yang membuktikan, manfaat sayur dan buah terhadap otak sangat besar. Hal ini bisa disebabkan oleh kandungan antioksidan, vitamin C dan E, serta berbagai  avonoid yang dapat menghambat produksi radikal bebas di seluruh tubuh, termasuk di otak. Jadi, jika ingin terhindar dari pikun, konsumsilah sayur dan buah, seperti: apel, jeruk, bayam, bunga kol, stroberi, dan lainnya. Sebaliknya, fast food, seperti: burger dan kentang goreng, selain kadar mikronutriennya sedikit, cara memasaknya pun dapat mengurangi nilai gizi di dalamnya. Kentang, misalnya, setelah digoreng hingga beberapa menit, maka kandungan vitaminnya akan berkurang, bahkan hilang. Ditambah lagi, makanan ini tinggi lemak dan karbohidrat yang manfaatnya terhadap otak sangat sedikit. Jadi, ketika anak gemar mengonsumsi fast food, sementara asupan sayuran dan buahnya kurang, wajarlah jika pertumbuhan otaknya tidak akan optimal. Sebab, kata Nyardi, asupan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana jenuh memungkinkan penurunan fungsi hippocampus di otak yang terkait dengan proses pembelajaran dan memori seseorang.

Kelebihan Berat Badan

Itulah mengapa, ketagihan pada fast food yang gurih perlu dicegah. Selain kandungan gizinya yang tak seimbang dan membuat anak jadi bodoh, penelitian juga membuktikan, terlalu banyak mengonsumsi makanan kaya lemak dan www.tabloid-nakita.com karbohidrat ini menjadi salah satu pemicu anak mengalami kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan akan semakin membatasi gerak anak, padahal aktif bergerak menjadi salah satu bagian yang dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik dan juga kecerdasan anak. Jika dibandingkan pada 1980, saat ini anak yang mengalami kelebihan berat badan meningkat 3 kali lipat. Sebuah laporan dari Institut Pengembangan Luar Negeri Inggris menyatakan, di negaranegara berkembang, anak dan orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan mencapai hampir 1 milyar jiwa. Sementara di negara maju sekitar 550 juta jiwa. Bila ada waktu, sempatkan sesekali duduk di teras sebuah sekolah dasar lalu amati anakanak yang sedang beraktivitas. Coba hitung, berapa banyak anak yang mengalami kelebihan berat badan. Mungkin setengah dari mereka mengalami kelebihan berat badan. Memang, tak hanya mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat yang membuat anak mengalami kelebihan berat badan. Aktivitas gerak anak yang sangat kurang pun bisa menjadi penyebab lainnya. Di era digital ini, banyak anak yang “terhipnotis” oleh hiburan digital dari gadget yang membuat mereka lebih senang diam, duduk, tiduran, sambil memainkan gadget-nya. Tak heran bila kemudian masalah kelebihan berat badan pada anak melaju semakin cepat. Dengan berat badan yang berlebih, kekhawatiran tak hanya pada penurunan tingkat kecerdasan, tetapi juga kesehatan anak. Berat badan berlebih akan membuat anak lebih mudah terjangkit penyakit degeneratif, seperti: diabetes, jantung, gangguan metabolisme, gangguan kardiovaskular, dan lainnya. Belum lagi pengolahan fast food yang digoreng dalam suhu tinggi dapat meningkatkan persentase munculnya penyakit kanker. Nah, bagaimana Mama Papa?