Komunitas Taman Hijau Ceria

Ajari Anak Tentang Lingkungan Sejak Dini

Bermula dari kesenjangan waktu yang dimilikinya usai menamatkan kuliahnya, ia pun lantas berniat untuk mencari kegiatan lain. Kemudian, ia mengamati sekitaran kampus. Lalu, terlihatlah sebuah fenomena menyedihkan. Banyak anak kecil yang mengemis di halaman kampus. Hal ini sungguh miris bagi batin Ricki, penggagas Taman Hijau Ceria. Tak tinggal diam, ia lantas memutar otak. “Bagaimana caranya berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk mereka,” ungkapnya dalam hati pada saat itu. Menurutnya, bukan waktunya mereka untuk bekerja. Terlihat dari guratan wajah mereka, tercermin kelelahan namun tetap tulus membantu orang tuanya mencari nafkah. Maka tercetuslah ide Ricki dan kedua temannya untuk membuat sebuah komunitas yang dapat digunakan sebagai wadah untuk menampung mereka. “Niatnya sih bisa memberikan dampak positif untuk mereka,” ujar Ricki. Taman Hijau Ceria, begitulah sebutan komunitas buatan mahasiswa Institut Pertanian Bogor ini.

Komunitas Berbasis Pendidikan

Pemerataan pendidikan, moral dan kehidupan sosial masyarakat, masih ditemukan pekerja anak, dan anak Indonesia butuh keceriaan. Itulah 4 pilar yang melatarbelakangi terbentuknya Komunitas Taman Hijau Ceria. “Komunitas ini basi c-nya memang pendidikan sebab seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam hidup seseorang. Ditambah lagi, bisa dilihat bahwa pendidikan di Indonesia belum rata ke semua lapisan masyarakat,” ujar Ricki saat ditemui di sela-sela kesibukannya. Taman Hijau Ceria merupakan komunitas yang bermarkas di Bogor. Komunitas ini bergerak di bidang sosial, khususnya pendidikan untuk anak-anak Indonesia yang kurang mampu yang dilakukan dalam bentuk sanggar belajar, kegiatan sosial, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pada awal mula terbentuk, komunitas ini masih terdiri dari 3 orang. Mereka lantas memulainya dari bawah. Ketiganya terjun langsung untuk sosialisasi ke masyarakat dengan cara mendatangi langsung orang tua yang bekerja di jalanan atau berprofesi sebagai pengemis. “Kita bertanya langsung ke mereka apakah mereka memiliki anak. Apabila ada, kita tawarkan apakah berminat atau tidak kalau anaknya mengikuti program dari Taman Hijau Ceria,” tutur Ricki. Ia menambahkan, awalnya hanya 5 anak saja yang ikut.

Namun, seiring berjalannya waktu, makin banyak anak yang bergabung. Ricki menambahkan, “Mungkin kesan pertamanya bagus, jadi kelima anak itu ajak temanteman yang lain.” Ricki berkisah, setahun berjalan, banyak anak-anak kampus lain yang bergabung dan berminat jadi v olunteer. “Karena aktivitas kita terbuka di taman, jadi banyak yang lihat kegiatan kita,” ujarnya. Sampai saat ini, hampir semua kampus di Bogor memiliki satu perwakilan v olunteer. Pria 24 tahun ini menambahkan, saat ini THC memiliki basecam p baru berbentuk rumah. “Awalnya, mau ngontrak sebuah rumah, tapi ternyata ada seseorang yang berniat baik untuk memberikan hak guna pakai bangunan dan lahannya beliau,” tuturnya. Komunitas THC saat ini memiliki jumlah v olunteer yang aktif sekitar 40 orang yang terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan karyawan. “Tapi yang namanya v olunteer kan kita gak bisa paksa untuk datang. Kalau secara data ada 8 0—8 5 v olunteer,” kata Ricki.

Lanjut ke Bagian 2