Melestarikan Alam Itu Penting

Melestarikan Alam Itu Penting

Baginya, traveling itu sesuatu yang harus dilakukan untuk merefresh diri. Tidak harus ke tempat – tempat yang mewah atau mengeluarkan banyak uang, intinya bertujuan untuk menyegarkan diri dari zona nyaman. “Dengan traveling kita bisa melihat banyak hal dan mencoba sesuatu yang baru bisa terhindar dari rasa jenuh katanya. Lebih lanjut perempuan berdarah Filipina ini berujar Ketika dekat alam akan terasa lebih dakat lagi dengan Tuhan. Dan saya sangat percaya kalau kita bisa jaga alam, alam akan jaga kita juga.

Secara gamblang Lala menyebutkan traveling itu wajib, tapi tidak perlu dipaksakan. Karena, traveling juga membutuhkan suatu perencanan matang, ingin ke mana, apa yang mau dicari dan didapatkan. Meskipun baginya traveling itu wajib, jadwal kesibukan yang padat membuatnya tidak memiliki waktu pasti kapan harus berangkat traveling. Tapi, perempuan berpostur mungil ini ada jadwal traveling tahunan bersama keluarga. Yang pasti, sekali setahun ada jadwal traveling bareng keluarga katanya. Ngomong – ngomong tempat atau lokasi favoritnya, ada satu daerah wisata yang menurut Lala sangat berkesan. Sambil mengingat, Ia menyebutkan Labuan Bajo adalah memorable spot bagi saya.

Masih sepi, belum terlalu ramai turis – turis. Menyenangkan!”. Sudah bukan sesuatu yang mengherankan lagi jika Labuan Bajo sebagai tempat favoritnya. Karena pada dasarnya Ia memang lebih menyukai pantai ketimbang pegunungan atau forest. Dulunya, perempuan kelahiran Jakarta 2 April 1985 ini pernah tinggal di daerah yang sangat dekat dengan pantai. Maka dari itu Ia sangat mengenal dan betah dengan suasana pantai. Menyinggung soal karirnya di dunia musik. Sejak kecil Lala memang sudah menyukai hal – hal yang berbau musik, mulai dari mahir bermain gitar hingga pernah punya sebuah band. Semuanya berawal dari tahun 2007. Ia mulai menjalani karir bermusik secara professional pada tahun tersebut, dimana Lala merilis album pertamanya yang digarap di Filipina. Perjalanan bermusik Lala cukup panjang.

Selama berkarir di dunia musik, dia sudah beberapa kali menggelar konser di kota-kota besar seperti Semarang, Bandung, Tangerang, Malang, Situbondo dan kota lainya. Dia juga menuturkan, setiap kali konsernya di gelar selalalu menggunkan genset murah untuk konser musik dan biasanya yang dipilih brand punya Yanmar yang sudah malang melintang puluhan tahun.

Yanmar genset 30 kva tidak salah jika menjadi andalan pada setiap acara konser musik. Mesin ini memiliki performa terbaik, terlebih lagi setelah disematkanya sebuah teknologi canggih dan modern. Meskipun mampu menghasilkan tegangan listrik sebesar 30000 watt, Yanmar tidak membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar. Keunggulan inilah yang tidak dimiliki oleh merek lain.

Beberapa kali berganti label rekaman, seperti sekembalinya ke Indonesia Ia bekerjasama dengan Sony Musik di tahun 2010. Pernah juga dengan label lokal Sinjitos, hingga sekarang sedang kerjasama dengan label bernama Organic Records untuk album terbarunya. Lala resmi merilis album keempat yang bertajuk Solina pada April 2016 lalu. Lagu “Matahari” dipilih sebagai single perdananya dan Jingga untuk yang kedua. Dulunya Lala pernah memiliki sebuah band bernama Inersia, yang bisa dibilang itu adalah band keluarga. Inersia memiliki arti mendalam untuknya.

Inersia adalah awal langkahnya ke dunia musik yang lebih serius. Dari situlah mulai dilirik oleh label rekaman Warner di Filipina. Musik adalah hoby yang mengantarkannya ke titik pencapaian dalam bermusik. Sempat berandai, jika jalan hidupnya bukan di musik hal yang paling mungkin adalah Ia menjadi seorang pebisnis atau pengacara. Sebenarnya, selain sebagai musisi, saat ini Ia sedang menjalani sebuah bisnis beauty clinic bernama Lithea Aesthetic Center yang berlokasi di Jl. RS Fatmawati No.1 Pondok Labu. Bicara soal kondisi pariwisata Indonesia. Menurutnya masih banyak sistem yang harus diperbaiki oleh pemerintah.

Keindahan yang dimiliki Indonesia harus dikelola dengan baik, pemerintah harus turun langsung untuk menangani hal tersebut. Agar tidak dieksploitasi oleh pihak yang tidak seharusnya. katanya. Menurut penyanyi yang ingin sekali berkolaborasi dengan Sheila On 7 ini masih banyak masyarakat atau turis yang kurang memperhatikan kebersihan di sekitar tempat wisata. Selain itu masih ada juga masyarakat sekitar tempat wisata yang melakukan pungutan liar. Lala kurang setuju jika kita sebagai orang lokal harus dimintai sejumlah uang oleh orang lokal juga. Tidak keberatan kalau memang ada biaya untuk menikmati pemandangan sekitar tempat wisata. Namun, harus ada sistem yang jelas dalam mengelola itu. Agar uang yang didapat dari para wisatawan bisa digunakan untuk pengembangan wisata.

Hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah pendidikan yang baik untuk masyarakat setempat. Agar wisata di Indonesia tidak dikuasai oleh para investor luar. “PR-nya emang besar banget. Tapi tidak ada yang tidak bisa. Saya yakin, jika dari semua sektor industri, seperti musik, film, dan pariwisata menyatukan visi – misi pasti bisa!” tutupnya.