Ingin Anak Cerdas ? Hindari Makanan Ini

Bila diamati, resto yang menjual makanan cepat saji hampir tak pernah sepi pengunjung, terlebih pada hari libur. Menariknya lagi, mayoritas pengunjung resto fast food ini adalah anak-anak dan remaja. Burger dan kentang goreng merupakan salah dua dari makanan cepat saji yang amat digemari anak-anak dan remaja. Tak heran, sebuah resto cepat saji dengan menu utamanya burger, laris manis oleh anak-anak dan remaja. Padahal, terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji yang kaya lemak dan karbohidrat ini, ditengarai bisa menghambat peningkatan kecerdasan anak.

Dengan kata lain, terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji Nmembuat kecerdasan terhambat. Oow! Betul, Mama Papa. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Western Australia dan Telethon Institute. Mereka mengamati 602 anak usia sekitar 14 tahun dari Western Australian Pregnancy Cohort. Anak-anak ini diminta mengisi kuesioner mengenai makanan yang dikonsumsinya. Tujuannya untuk mengidentifikasi analisis faktor pola makan sehat dan makanan ala Barat. Di usia 17 tahun, mereka kembali diamati untuk melihat tingkat kecerdasan masingmasing. Ditemukan, anak-anak yang sangat sering mengonsumsi makanan cepat saji, seperti: daging merah, kentang goreng, daging olahan, dan minuman ringan, memiliki kemampuan lebih rendah dibandingkan anak yang sering makan buah dan sayur. Kemampuan tersebut adalah kemampuan mental, belajar, perhatian visual, dan kemampuan daya ingat.

Lanjut ke Bagian 2

Belajar Bahasa Asing ? Penting Ga sih ?

PARA Mama yang sering ikut Sharing Moment nakita, tentu tak asing lagi dengan sosok Shiera Angel (33). Beberapa tahun belakangan, ibu dua anak inilah yang memandu acara tersebut dari awal hingga akhir. Celotehannya kerap membuat suasana jadi lebih seru dan hidup. Shiera mengaku, banyak manfaat yang didapat selama memandu Sharing Moment nakita. “Saya tahu banyak langsung dari ahli, misalnya tentang pengasuhan yang baik. Salah satunya, kita tidak boleh membiarkan anak terlalu sering ber-gadget karena akan berdampak negatif buat anak,” paparnya. Di sela wawancara dan foto, Shanley Clement (7) si sulung antusias ingin melihat hasil foto. “Rasa ingin tahunya sangat besar.”

Shiera pun bercerita, banyak benda di rumahnya yang rusak gara-gara keingintahuan Clement. Sang adik, San Avelino (1,4), pun ikutikutan. Shiera memaklumi, barang-barangnya yang rusak dianggapnya sebagai kelinci percobaan atas kreativitas kedua anaknya. Selain sibuk memerhatikan dan mengutak-atik barang, Clement terus bertanya tentang apa pun kepada mamanya dan nakita. Nah, dalam berkomunikasi, Shiera mengharuskan Clement dan Avelino menggunakan bahasa Indonesia. “Saya ingin anak-anak menguasai bahasa ibunya dahulu,” kata presenter Pesona di TVRI ini. “Jika anak sudah menguasai bahasa ibu, akan mudah baginya untuk belajar dan menguasai bahasa asing.” Shiera tak mau anaknya kelak mengalami bingung bahasa atau berkomunikasi dengan bahasa yang dicampur-campur. “Pokoknya, ia harus menguasai bahasa ibunya dahulu baru bahasa asing, Inggris misalnya,” tegas istri dari Santoris (54) ini.

Sumber : Majalah Nakita Edisi 816

Pentingnya Pendidikan Dunia Maya untuk Anak Bagian 3



AJARI ETIKA SOSIAL MEDIA

Terlepas dari itu, kita perlu mengingatkan kembali, sebenarnya aktivitas di sosial media baru boleh dilakukan setelah anak berusia 17 tahun. Pada usia ini, kematangan berpikir seseorang sudah jauh lebih baik. Karena itulah ada ancaman saat anak-anak (di bawah umur) sudah terjun aktif di dunia maya; dari bullying, penipuan, kekerasan seksual, hingga penculikan. Jika diibaratkan, larangan bermain di dunia maya untuk anak sama saja dengan larangan ia berkendara. Sebelum memiliki SIM, anak dilarang mengendarai motor atau mobil. Larangan ini umumnya lebih dipatuhi karena bahayanya lebih dirasakan, kecelakaan misalnya. Toh, kalaupun anak sudah rajin bersosmed, yang bisa kita lakukan adalah membantu anak mengenali dirinya sendiri.

Ia perlu tahu siapa dirinya dan bagaimana kebiasaannya, termasuk apa yang bisa membuatnya marah dan bagaimana reaksi dia ketika marah. Ajari pula anak untuk mengenali orang lain; dari usia, karakter, hingga statusnya, sehingga ia berusaha untuk memahami orang tersebut. Setelah itu anak perlu tahu aturan main bersosmed. Ia harus sadar siapa yang ia hadapi dan konsekuensi yang bisa ia dapat ketika mengunggah sesuatu di dunia maya. Berikan contoh seperti kasus Florence dan Yogyakarta yang baru-baru ini terjadi. Wawasan ini akan membantunya meningkatkan kesadaran diri. Bila kesadaran dirinya terbangun, kontrol dirinya juga lebih baik sehingga umpatan, cacian, makian, akan berusaha dihindarinya. Ia akan lebih berusaha menulis hal-hal positif seperti komentar yang dapat membangun semangat teman-temannya. Tak hanya bersosmed, etiket bergaul di dunia nyata juga perlu diajarkan. Memang ada anakanak yang cenderung pendiam dan tertutup. Meski demikian, kita tetap perlu membuatnya lebih terbuka. Ajak ia terus bersosialisasi. Biasakan anak bergabung dengan teman sebaya di dunia nyata, misal, dengan mengikutkannya kursus atau kegiatan olahraga. Dengan cara ini anak akan belajar bergaul dengan lebih santun, tak hanya di dunia maya juga di dunia nyata.



Pentingnya Pendidikan Dunia Maya untuk Anak Bagian 2



BERANI KARENA TIDAK MELIHAT

Sekarang kita membahas tentang komunikasi yang terjadi di sosial media (dunia maya) seperti Facebook, Path, Twitter, dan lainnya. Di dunia ini, anak cenderung tidak tahu siapa yang dihadapinya. Ritmenya juga cenderung cepat; dari mengetik, memotret, kemudian meng-upload semua dalam hitungan detik. Di sini seolah tidak ada kesempatan bagi anak untuk memahami situasi dulu, sebelum memberi respons. Feedback yang didapat juga tidak utuh. Kalau anak mengupload sesuatu yang membuat orang lain tidak berkenan, meski ada teguran, tapi wujud  siknya tidak nyata, anak cenderung lebih kebal terhadap feedback. Karena itulah saat bersosmed, anak cenderung tampil “berani”; ia bebas menumpahkan unekuneknya lewat status, bahkan mengkritik atau memberikan komen negatif atas status teman-temannya. Di dunia maya, identitas anak seakan-akan hilang. Meski ada tampilan nama, foto, atau identitas lain, tetap ada perasaan anonim. Perasaan tidak tampil secara fisik dan perasaan hanya “berhubungan” dengan benda mati; komputer, laptop, atau gadget, inilah yang membuat anak jadi kurang kontrol diri.

TIDAK MERASAKAN NIAT PIHAK LAIN

Di sosial media, anak juga cenderung sangat mudah memberikan “penilaian.” Ketika membaca status seseorang yang ditulis dengan huruf besar atau dengan kata-kata kasar, anak bisa otomatis memberikan penilaian negatif pada orang itu dan balas memberikan komentar yang negatif juga. Padahal di dunia nyata, anak tampak pendiam dan seolah tidak peduli dengan lingkungan. Hal ini karena ia tidak bisa merasakan atau melihat secara langsung niat orang itu; bagaimana posisi atau situasi sebenarnya. Inilah yang menjadi penyebab perbedaan situasi ketika anak berkomunikasi di dunia nyata. Pada saat anak berbicara dengan sosok yang dihadapi secara langsung, ia akan melihat ekspresi dan status si lawan bicara. Kesadaran akan kehadiran  sik, identitas diri, dan identitas orang yang dihadapinya, membuat anak cenderung lebih berpikir bagaimana agar “tujuan transaksinya” berhasil (sesuai dengan teori Transactional Analysis). Misalnya, ia ingin dianggap sebagai anak sopan, anak yang penurut, sebagai teman yang baik, dan sebagainya.

Lanjut ke Bagian 3

Pentingnya Pendidikan Dunia Maya untuk Anak

Pulang sekolah, Rima tidak langsung ganti baju melainkan menyambar ponselnya dari meja belajar. Ia kemudian asyik menulis status, bercerita tentang pengalaman tak menyenangkannya saat kalah ketika bermain baseball di sekolah. “Mereka curang, pantesan saja menang!” tulis Rima di beranda Facebook-nya. Ketika ada yang menanyakan “siapa yang curang?” Rima kemudian bercerita tentang teman-temannya si a, B, C, dan seterusnya yang dianggapnya tidak fair saat bermain bisbol di sekolah. “Pokoknya mereka curang!” Rima memang terbiasa cerewet di dunia maya. Ia kerap menumpahkan unek-uneknya saat bersosmed. Berbeda di keseharian, gadis cilik berusia 10 tahun ini terlihat pendiam. Pokoknya cara berekspresinya di dunia maya dengan dunia nyata, bagaikan langit dan bumi.

TEORI KOMUNIKASI TRANSKASIONAL

Sebelum membahas tentang dunia maya yang notabene adalah sosial media, kita perlu memahami dulu perjalanan anak mencari dan membentuk identitas diri. Di usia SD anak sudah bisa mendeskripsikan dan memahami siapa dirinya dengan baik. Seperti nama lengkap, siapa orangtuanya, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, ia anak tunggal atau anak sulung/ bungsu, apa kesukaannya, apa yang membuatnya marah, apa yang membuatnya senang, dan sebagainya. Karena sudah bisa memahami siapa dirinya, ia mulai bergaul dan berhubungan dengan orang lain sebagai bagian dari pemahaman terhadap identitas orang lain. Contoh, ia tahu dan paham identitas teman, sahabat, guru, orangtua, berikut status dan peran mereka masing-masing. Pemahaman yang disebut egostate ini akan membantu anak beradaptasi ketika berhadapan dengan orang-orang tersebut. Teori yang bernama Transactional Analysis menyebutkan, egostate memengaruhi “transaksi”. artinya, seorang anak akan berbeda cara ngomong-nya bila menghadapi guru, orangtua, nenek, atau orang dewasa lain, dibandingkan dengan caranya menghadapi teman/sahabatnya. Terhadap orang yang lebih tua, karena secara usia, emosi, ukuran tubuh, berbeda, maka akan timbul perasaan segan. Karena ada rasa keharusan untuk menghormati, bicara mereka pun lebih halus. Berbeda saat dia berbicara dengan sahabatnya. Posisi mereka yang setara; tidak ada yang merasa lebih tinggi, lebih dihormati, dan tidak ada yang merasa lebih rendah, komunikasinya pun bersifat setara. Bahasanya santai, bisa langsung marah kalau tidak suka, langsung ngambek kalau kesal, atau langsung ketawa terbahak-bahak kalau lucu.

Lanjut Bagian 2