Pentingnya Pendidikan Dunia Maya untuk Anak Bagian 2



BERANI KARENA TIDAK MELIHAT

Sekarang kita membahas tentang komunikasi yang terjadi di sosial media (dunia maya) seperti Facebook, Path, Twitter, dan lainnya. Di dunia ini, anak cenderung tidak tahu siapa yang dihadapinya. Ritmenya juga cenderung cepat; dari mengetik, memotret, kemudian meng-upload semua dalam hitungan detik. Di sini seolah tidak ada kesempatan bagi anak untuk memahami situasi dulu, sebelum memberi respons. Feedback yang didapat juga tidak utuh. Kalau anak mengupload sesuatu yang membuat orang lain tidak berkenan, meski ada teguran, tapi wujud  siknya tidak nyata, anak cenderung lebih kebal terhadap feedback. Karena itulah saat bersosmed, anak cenderung tampil “berani”; ia bebas menumpahkan unekuneknya lewat status, bahkan mengkritik atau memberikan komen negatif atas status teman-temannya. Di dunia maya, identitas anak seakan-akan hilang. Meski ada tampilan nama, foto, atau identitas lain, tetap ada perasaan anonim. Perasaan tidak tampil secara fisik dan perasaan hanya “berhubungan” dengan benda mati; komputer, laptop, atau gadget, inilah yang membuat anak jadi kurang kontrol diri.

TIDAK MERASAKAN NIAT PIHAK LAIN

Di sosial media, anak juga cenderung sangat mudah memberikan “penilaian.” Ketika membaca status seseorang yang ditulis dengan huruf besar atau dengan kata-kata kasar, anak bisa otomatis memberikan penilaian negatif pada orang itu dan balas memberikan komentar yang negatif juga. Padahal di dunia nyata, anak tampak pendiam dan seolah tidak peduli dengan lingkungan. Hal ini karena ia tidak bisa merasakan atau melihat secara langsung niat orang itu; bagaimana posisi atau situasi sebenarnya. Inilah yang menjadi penyebab perbedaan situasi ketika anak berkomunikasi di dunia nyata. Pada saat anak berbicara dengan sosok yang dihadapi secara langsung, ia akan melihat ekspresi dan status si lawan bicara. Kesadaran akan kehadiran  sik, identitas diri, dan identitas orang yang dihadapinya, membuat anak cenderung lebih berpikir bagaimana agar “tujuan transaksinya” berhasil (sesuai dengan teori Transactional Analysis). Misalnya, ia ingin dianggap sebagai anak sopan, anak yang penurut, sebagai teman yang baik, dan sebagainya.

Lanjut ke Bagian 3