Pentingnya Pendidikan Dunia Maya untuk Anak

Pulang sekolah, Rima tidak langsung ganti baju melainkan menyambar ponselnya dari meja belajar. Ia kemudian asyik menulis status, bercerita tentang pengalaman tak menyenangkannya saat kalah ketika bermain baseball di sekolah. “Mereka curang, pantesan saja menang!” tulis Rima di beranda Facebook-nya. Ketika ada yang menanyakan “siapa yang curang?” Rima kemudian bercerita tentang teman-temannya si a, B, C, dan seterusnya yang dianggapnya tidak fair saat bermain bisbol di sekolah. “Pokoknya mereka curang!” Rima memang terbiasa cerewet di dunia maya. Ia kerap menumpahkan unek-uneknya saat bersosmed. Berbeda di keseharian, gadis cilik berusia 10 tahun ini terlihat pendiam. Pokoknya cara berekspresinya di dunia maya dengan dunia nyata, bagaikan langit dan bumi.

TEORI KOMUNIKASI TRANSKASIONAL

Sebelum membahas tentang dunia maya yang notabene adalah sosial media, kita perlu memahami dulu perjalanan anak mencari dan membentuk identitas diri. Di usia SD anak sudah bisa mendeskripsikan dan memahami siapa dirinya dengan baik. Seperti nama lengkap, siapa orangtuanya, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, ia anak tunggal atau anak sulung/ bungsu, apa kesukaannya, apa yang membuatnya marah, apa yang membuatnya senang, dan sebagainya. Karena sudah bisa memahami siapa dirinya, ia mulai bergaul dan berhubungan dengan orang lain sebagai bagian dari pemahaman terhadap identitas orang lain. Contoh, ia tahu dan paham identitas teman, sahabat, guru, orangtua, berikut status dan peran mereka masing-masing. Pemahaman yang disebut egostate ini akan membantu anak beradaptasi ketika berhadapan dengan orang-orang tersebut. Teori yang bernama Transactional Analysis menyebutkan, egostate memengaruhi “transaksi”. artinya, seorang anak akan berbeda cara ngomong-nya bila menghadapi guru, orangtua, nenek, atau orang dewasa lain, dibandingkan dengan caranya menghadapi teman/sahabatnya. Terhadap orang yang lebih tua, karena secara usia, emosi, ukuran tubuh, berbeda, maka akan timbul perasaan segan. Karena ada rasa keharusan untuk menghormati, bicara mereka pun lebih halus. Berbeda saat dia berbicara dengan sahabatnya. Posisi mereka yang setara; tidak ada yang merasa lebih tinggi, lebih dihormati, dan tidak ada yang merasa lebih rendah, komunikasinya pun bersifat setara. Bahasanya santai, bisa langsung marah kalau tidak suka, langsung ngambek kalau kesal, atau langsung ketawa terbahak-bahak kalau lucu.

Lanjut Bagian 2