Percaya Diri Tinggal di Gedung Tinggi

Setelah apartemen tersebar di berbagai penjuru kota, rumah bukanlah satu-satunya lagi pilihan sebagai tempat tinggal. Hunian vertikal itu semakin banyak diminati keluarga muda. Sudah banyak orang jatuh hati memilih apartemen dan menghuninya beserta seluruh keluarga tercinta. Bukan hanya 1-2 tahun, namun ada yang mencapai belasan tahun. Endhy, begitu ia disapa, sudah 7 tahun menghuni apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tekad dan nyali besar yang membuat Ayah satu putri itu tinggal di gedung jangkung. Lokasi, akses, fasilitas lengkap, jaminan keamanan, dan biaya operasional yang terjangkau membuat ia beserta keluarganya memutuskan tinggal di sana. Setelah menikah, Endhy memboyong istrinya ke unit apartemen itu. Awal menghuni, ia senang bukan kepayang dengan suasana apartemen. Suasananya nyaman, area parkirnya lapang, dan akses yang leluasa ke berbagai pusat bisnis.

Halau Rasa Galau

Sebagian orang mungkin bakal merasa was-was saat pertama menghuni hunian di gedung bertingkat tinggi. Bagaimana seandainya lift macet, tangga darurat sempit, mati lampu, kebakaran, hingga seberapa kuat bangunan menahan gempa. Menurut Davy Sukamta, pakar konstruksi gedung, hal itu wajar. “Itulah mengapa, perlakukan struktur, ME (Mechanical Electrical), dan komponen bahan memang perlu pendekatan khusus,” tuturnya.

Membangun gedung bertingkat tinggi, kata Davy, tidak bisa sembarang. Apalagi jika kapasitas penghuninya cukup banyak. “Kalau gedung dirancang dengan baik, kita bisa mengurangi rasa was-was itu.” Developer yang berkompeten akan memperhatikan kelayakan apartemen. Hal teknis tata bangunan seperti keandalan struktur dan konstruksi jadi prinsip baku.

Elemen utama lain mencakup ME, termasuk sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran, juga komponen bahan yang bermutu baik. Tidak bisa dikurangi, apalagi diganti atau diturunkan spek bahan yang sudah semestinya. Kesehatan fisik gedung akan berdampak pada kenyamanan penghuni.

Penghuni Terus Bertambah

Sadar atau tidak sadar, populasi penghuni jelas akan memberi dampak pada rencana gedung yang akan dibangun. Mulai dari penentuan layout denah per unit, akses menuju lift, dan tangga darurat. Juga, letak sarana kebakaran yang mudah dijangkau petugas pemadam.

Yang merepotkan, jika standar kelayakan gedung tidak terpenuhi, maka saat populasi penghuni membesar akan memberi dampak pada kenyamanan penghuni. Bahkan, tidak menutup kemungkinan membuat penghuni cemas jika terjadi sesuatu. Misalnya, kebakaran gedung. Rasa was-was juga pernah dirasakan Endhy. Setelah tahun kedua, saat populasi penghuni bertambah, rasa nyaman Endhy mulai terusik. Kalau dulu, ia masih bisa leluasa bergerak sana-sini, kini tak lagi seperti itu.

Jalan koridor sudah cukup padat. Lahan parkir berkurang lantaran kendaraan yang membludak. “Syukur, pengelola kooperatif. Mereka mau mendengarkan keluhan penghuni, dan kami bersama-sama memecahkan masalah itu. Kami sepakat membuat suasana tetap nyaman seperti kali pertama kami menetap di sana,” ujar Endhy, yang hingga kini masih percaya diri menghuni di gedung jangkung itu. Di halaman berikut, kami akan berbagi informasi dan tip menghuni di gedung tinggi. Informasi yang membantu Anda menepis keraguan selama ini.

Cek 5 Hal Sebelum Menghuni

1. Sistem keamanan yang terintegrasi dengan kepolisian setempat. Tersedia perangkat yang mendukung sistem keamanan 24jam, misalnya kamera CCTV.

2. Sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Memiliki smoke detector, sprinkler, dan hidran. Kalau tidak terlihat tanyakan kepada pihak pengelola. Tersedia exhaust fan untuk menyedot udara atau asap dari dalam ke luar bangunan.

3. Genset darurat. Biasa difungsikan untuk mengatur pencahayaan dan pengudaraan di lorong, memfungsikan lift, dan menyokong benda bersama. Kerja genset darurat tidak boleh di-on dan o­ secara manual, harus otomatis. Ketika listrik PLN mati, genset otomatis menyala. Untuk mendapatkan genset yang original dan berkualitas serta harga terjangkau bisa membelinya di toko suplier resmi genset silent 750 Kva di Surabaya.

4. Lift darurat yang dapat dioperasikan petugas pemadam saat terjadi kebakaran besar. Termasuk ketersedian tangga darurat yang memadai, dengan minimal lebar 120cm.

5. Tersedia cadangan air untuk pemadaman selama 30-60menit, waktu yang diperkirakan sebelum petugas pemadam datang.